Rabu, 22 Februari 2012

SOSIOLOGI, Suatu Pengantar



A. Latar Belakang Munculnya Ilmu Sosiologi
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang tergolong masih muda, pertama kali muncul di Eropa awal abad 19, dilatarbelakangi oleh peristiwa-peristiwa:
1. Tumbuhnya kapitalisme pada akhir abad ke-15
2. Munculnya gerakan reformasi gereja di Eropa
3. Terjadinya renaissance dan aufklarung
4. terjadinya revolusi industry dan revolusi perancis
Istilah sosiologi pertama kali dicetuskan oleh ahli filsafat bangsa perancis bernama Auguste Comte tahun 1839, untuk menunjuk pada suatu ilmu yang “berbicara tentang masyarakat”. Comte beranggapan bahwa sudah saatnya semua penelitian terkait soal-soal kemasyarakatan dan gejala-gejala masyarakat dikaji secara ilmiah dan tidak berdasar spekulasi. Dari pemikiran tersebut kemudian lahir ilmu sosiologi.

B. Apa Yang Dikaji Dari Sosiologi?
Sosiologi merupakan studi sistematis tentang:
- perilaku sosial dari individu-individu
- kelompok-kelompok sosial, organisasi, kebudayaan, dan masyarakat
- mempelajari dampak sistem sosial dan kelompok primer pada individu
Pitirim Sorokin, dalam bukunya "Contemporary Sociological Theories", mengatakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari:
- Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik, dsb)
- Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala-gejala non sosial (misalnya gejala geografis, biologis dan sebagainya)
- ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial
 
C. Ciri Khas Ilmu sosiologi
Sosiologi  merupakan ilmu sosial yang objeknya adalah masyarakat. Sosiologi juga merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri karena telah memenuhi segenap unsur-unsur ilmu pengetahuan, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Bersifat empiris
Sosiologi bersifat empiris berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif.
2. Bersifat Teoritis
Sosiologi bersifat teoritis berarti ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha untuk menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan-hubungan sebab akibat, sehingga menjadi teori.
3. Bersifat Kumulatif
Sosiologi bersifat kumulatif berarti bahwa teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada, dalam arti memperbaiki, memperluas serta memperhalus teori-teori yang lama.
4. Bersifat Non-etis
Sosiologi tidak mempersoalkan baik-buruknya fakta tertentu, akan tetapi tujuannya adalah untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.

referensi:
- Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers
- http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi